Saturday, April 23, 2005

Budaya Korporat:Beberapa Catatan Untuk Studi Perilaku Organisasional

Mengapa Budaya Korporat? Banyak hasil penelitian dan pengkajian yang dilakukan oleh pakar di bidang perilaku organisasional (misal, Peters & Waterman, 1982; Deal & Kennedy, 1982), menunjukkan bahwa budaya korporat (corporate culture) mempunyai dampak signifikan terhadap kinerja (performance) dan keefektifan organisasi. Pembelajaran dari berbagai hasil penelitian tersebut mengungkap bahwa, banyak organisasi sukses mempunyai serangkaian karakteristik budaya yang kuat. Sebagai suatu sistem nilai organisasi, budaya memberikan berbagai prinsip pengoperasian dasar dan pedoman berperilaku kerja bagi pekerja. Kekurangperhatian pada sistem sosial telah menyebabkan studi perilaku organisasional mengalami bias psikologis individualistik (Schein, 1996). Bias ini menyebabkan peneliti sering mengabaikan pentingnya budaya .
Definisi Budaya Korporat
Budaya korporat dapat didefinisikan secara umum sebagai:
Shared philosophy, belief, values, attitudes, history and tradition around which an organization operates …..
Budaya organisasional merupakan pola berbagai asumsi dasar dan nilai yang dipegang diyakini valid sebagai acuan dan cara yang “benar” untuk mempersepsikan, merasakan, memikirkan dan memecahkan berbagai masalah. Berbagai shared values tersebut ditemukan dan dikembangkan oleh suatu organisasi sejalan dengan proses pembelajaran dalam menghadapi masalah-masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal (Schein, 1992). Budaya organisasional mencerminkan sistem shared meaning yang dipegang oleh para karyawan dan yang membedakan antara organisasi satu dengan organisasi lain. Definisi ini mencerminkan bahwa budaya mencakup banyak aspek organisasional.ang mempengaruhi bagaimana organisasi berfungsi. Ada kebutuhan untuk menggunakan “lensa” yang lebih terintegrasi, berdasarkan psikologi sosial, sosiologi, dan antropologi, dalam menjelaskan fenomena organisasional.
Peneliti perlu menyadari bahwa teori, konsep dan metode yang dikembangkan adalah juga produk budaya .
(Schein, 1996).

Kebalauan Definisional Budaya Korporat
Budaya korporat telah menjadi suatu fad, di antara para manajer, konsultan dan akademisi, dengan fokus yang berbeda-beda. Tidak ada konsensus tentang definisi budaya:: (1) Apakah budaya socially contructed? (2) Apakah budaya terbentuk secara historis? (3) Apakah budaya bersifat holistik? (4) Apakah budaya dapat diubah? (5) Apakah budaya berbeda dengan iklim (climate)? (6) Apakah budaya terdiri atas sejumlah dimensi (isu dimensionalitas)? Dan, (7) Apakah berbagai definisi budaya dapat diintegrasikan menjadi satu konstruk? (8) Apakah budaya dapat diukur secara kuantitatif (Hofstede, Neuijen, Ohayv, & Sanders, 1990; Smircich, 1983; Denison, 1996).

Perkembangan studi budaya yang didominasi pandangan dimensionalitas dan metode kuantitatif telah menggeser fondasi epistemologis riset dalam studi organisasional (Denison, 1996). Bahkan, tipe riset ini telah mereduksi budaya menjadi “just another variable” dalam model studi fenomena organisasional (Siehl & Martin, dalam Denison, 1996).
Studi budaya menderita schizophrenia. Di satu sisi, budaya dipandang sebagai proses kognisi yang merupakan fungsi asumsi dan keyakinan yang tidak dapat dikelola (beyond conscious manipulation). Di sisi lain, banyak praktisi dan peneliti yang memfokuskan hanya pada perilaku yang terobservasi, dengan menyamakan budaya dengan berbagai simbol, “hiasan,” dan perilaku

Berbagai Aspek Korporat
Konsep budaya mempunyai banyak makna dan konotasi. Sejumlah sapek kritis yang terkait dengan budaya (Schein, 1992):
Behavioral regularities terobservasi ketika orang berinteraksi
Norma kelompok
Nilai-nilai yang diartikulasikan dan dinyatakan secara publik
Filosofi formal Aturan main (“the ropes”)
IklimEmbedded skillsHabits of thinking dan model mental
Shared meanings“Root metaphors” atau integrating symbols


0 Comments:

Post a Comment

<< Home